Translate

Tampilkan postingan dengan label BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUKU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2025

Mitigasi Masalah PPG Siklus 1

 

Mitigasi Masalah

 

1.     Waktu yang terlalu banyak / over time

Pada PPL siklus 1 saya mengalami kelebihan waktu sampai 30 menit dikarenakan waktu pembuatan projek yang lama. Untuk itu pada PPL siklus 2 ini saya mencari alternatif yaitu membuat projek yang tidak membutuhkan waktu lama dan sesuai dengan materi, yaitu membuat alat peraga kipas sudut. Pembuatan alat peraga ini sudah saya praktekan sendiri dan hanya membutuhkan waktu 13 menit. Estimasi waktu pengerjaan terlama anak-anak kurang lebih 2x waktu saya membuat. Jadi saya memberi waktu 25 menit anak-anak untuk membuat projek, dan setelah waktu habis dikumpulkan tanpa penambahan waktu. Jika semua dikerjakan sesuai jadwal InshaAllah tidak akan terjadi kelebihan waktu.

2.     Pengambilan Video

Pada siklus 1 saya sangat terkendala dalam pengambilan gambar untuk video editing dikarenakan partner saya yang tiba-tiba dipanggil untuk Monev. Untuk itu pada pengambilan video kali ini saya meminta bantuan kepada 2 orang teman saya yang dari luar untuk membantu pengambilan video proses mengajar, sehingga saya memiliki video fokus setiap anak dan setiap kelompok untuk mempermudah proses editing.

3.     Urutan pembelajaran yang benar agar tidak tertukar

Pada siklus 1 saya tidak mengalami urutan yang tertukar, karena semua sudah tampil di slide media pembelajaran dan tinggal mengikuti urutannya. Jika tiba-tiba terkendala slide tidak bisa tayang, maka saya harus mengingat urutannya agar tidak tertukar. Dan memprint media pembelajaran agar bisa dilihat jika tayangan slide mati akibat mati lampu.

4.     Menghindari keributan yang tidak terkendali / suasana kelas yang ramai

Suasana kelas sudah diatur dan setiap peserta didik sudah duduk berdasarkan kelompoknya. Setiap kelompok terdiri dari anak-anak kinestetik, auditory dan visual. Setiap anak memiliki peran penting didalam kelompok sehingga mereka fokus dengan tugasnya. Guru juga berkeliling untuk mengawasi kerja kelompok agar anak-anak lebih semangat dalam mengerjakan tugas.

5.     Menghindari alat peraga yang kurang sesuai

Untuk menghindari alat peraga yang kurang sesuai saya membuat sendiri alat peraga tersebut yaitu jam sudut dan kipas sudut. Sebelum digunakan alat itu sudah saya uji coba dahulu dirumah agar tidak ada kesalahan. Dan sebelum pembelajaran dimulai di kembali. Selain itu saya juga menyediakan penggaris rotan untuk belajar membuat sudut.

6.     Pengisian LKPD yang tepat waktu

Lembar LKPD projek dan pengetahuan saya jadikan 1. Pertama peserta didik membuat alat peraga sendiri. Setelah alat peraga berhasil dibuat, langsung dipraktekan menjawab soal yang ada di LKPD tersebut.

7.     Bahan tayang siap dan tidak tertukar

Agar bahan tayang tidak tertukar maka sebelum pembelajaran harus disiapkan dalam 1 folder, dan dibuka sebelum pembelajaran dimulai.

8.     Kesiapan Kelas

Untuk kelas inshaAllah sudah siap semua

STUDY KASUS PPG 2023

 

STUDI KASUS

PESERTA DIDIK KURANG SEMANGAT DALAM MENGIKUTI PEMBELAJARAN IPAS

DI FASE C LEVEL 5 SDS MUHAMMADIYAH BOJONGGEDE

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENYUSUN : SHINTA ARYANI SAPUTRI

 

 

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN PROFESI GURU DALJAB KATEGORI I ANGKATAN 2

UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

2023


 

A.    DESKRIPSI STUDI KASUS

Berdasarkan kasus pada topik Listrik dan kegunaannya yaitu peserta didik kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran IPAS dikarenakan model pembelajaran yang digunakan kurang variatif seperti pembelajaran yang hanya berpusat pada guru sebagai sumber belajar sehingga peserta didik tidak aktif dalam memecahkan masalah dan kurangnya pemanfaatan sumber belajar yang membuat peserta didik menjadi susah menerapkan pembelajaran nyata disekolah. Untuk itu saya menggunakan model Project Based Learning (PjBL) untuk mendorong peserta didik menjadi lebih aktif, mandiri, dan kreatif dalam memecahkan permasalahan.

Topik studi kasus ini penting dikaji lanjut karena berdampak pada kemampuan saya melakukan evaluasi dan merencanakan tindak lanjut pembelajaran. Selain itu topik ini akan membantu saya meningkatkan kemampuan pedagogik dan kecakapan Abad 21 serta TPACK Sehingga dapat memberi dampak positif dan inovasi bagi pembelajaran kedepannya yang sudah serba digital.

 

B.    ANALISIS SITUASI

Berdasarkan kasus yang saya kaji, kemudian saya berdiskusi dengan rekan sejawat tentang materi yang sudah disampaikan sebelumnya. Saya berharap mendapatkan cara untuk mengatasi kasus yang saya angkat yaitu peserta didik kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran IPAS dikarenakan model pembelajaran yang digunakan kurang variatif. Situasi yang terjadi pada saat perancangan pembelajaran adalah belum adanya pengetahuan tentang karakteristik peserta didik. Untuk itu saya melakukan pengamatan terlebih dahulu untuk mengetahui kebiasaan, hal yang peserta didik sukai dan bagaimana respon peserta didik terhadap pembelajaran guru sebelumnya. Setelah mendapat hasil pengamatan saya memilih model pembelajaran berbasis projek / Project Based Learning didukung dengan media pembelajaran inovatif untuk mengajarkan materi IPAS topik listrik dan kegunaannya. Harapan saya peserta didik dapat mengetahui masalah sehari-hari terkait listrik dan kegunaanya.

Peran dan tanggungjawab saya dalam merancang melakukan evaluasi adalah sebagai guru yang bertanggungjawab melakukan pembelajaran secara efektif dengan menggunakan model, metode dan media yang inovatif sehingga tujuan pembelajaran dapat terpenuhi dan peserta didik memiliki hasil pembelajaran yang memuaskan sesuai dengan yang diharapkan.

Yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan pembelajaran diantaranya penggunaan model dan metode pembelajaran yang inovatif dan tepat bagi peserta didik yang sesuai dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari, masih adanya peserta didik yang kurang aktif dalam kelompoknya, masih ada peserta didik yang percaya diri ketika mempresentasikan hasil proyeknya. Hambatan yang saya hadapi adalah mengkondisikan peserta didik agar mudah mengikuti pembelajaran.

Yang terlibat dalam terlaksananya rancangan evaluasi ini adalah Kepala sekolah SDS Muhammadiyah dan rekan-rekan sejawat serta wali murid dan anak-anak murid kelas 5B yang sangat mendukung proses pembelajran ini.

 

C.    ALTERNATIF SOLUSI

Untuk mengatasi kasus di pembelajaran, saya melaksanakan pembelajaran IPAS dengan memakai model Project Based Learning (PJBL) dengan menggunakan media inovatif yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Langkah-langkah yang dilakukan yaitu penggunaan model PJBL dimana pembelajaran berpusat kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, dapat berpikir kritis dan menjadi kreatif dibandingkan menggunakan model dan metode yang monoton, dengan mengajak peserta didik mengamati rangkaian listrik seri dan parallel kemudian mempraktekan cara  membuat rangkaian tersebut bersama kelompok. Respon peserta didik sangat antusias dan semangat dalam pembelajaran selama menggunakan model PJBL karena langsung mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor keberhasilan pembelajaran ini ditentukan oleh penguasaan guru terhadap model dan metode pembelajaran, media pembelajaran dan langkah langkah pelaksanaan dalam rancangan perangkat ajar yang telah dibuat. Pembelajaran yang bisa diambil dari proses dan kegiatan yang sudah dilakukan oleh guru yakni dapat menjadikan guru lebih kreatif dan inovatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan mendapat hasil yang sesuai KKTP.

Sumber daya yang saya manfaatkan untuk membuat projek rangkaian listrik ini membutuhkan biaya yang tidak terlalu banyak karena hanya menggunakan baterai, saklar, kabel, lampu dan sterofoam. Dan media inovatif yang saya gunakan yaitu membuat contoh rangkaian seri sendiri, mencari gambar dari google dan video pembelajaran yang ada di youtube.

 

D.    EVALUASI

Setelah saya melaksanakan Projek Based Learning yang dibantu media inovatif, dapat saya lihat peserta didik sangat senang, aktif dan antusias dalam belajar. Peserta didik antusias dengan penerapan pembelajaran berbasis projek pada kehidupan sehari-hari yang saya sampaikan dengan berbagai media. Semuanya tidak hanya menyimak tetapi ikut andil dalam membuat rangkaian seri dan paralel dan aktif berdiskusi dan tanyan jawab dengan teman kelompok. Selain aktif membuat projek peserta didik juga semangat mempresentasikan hasil karyanya didepan teman sekelas dan ini menjadi pengalaman berharga buat semua peserta didik karena mereka dapat membuat rangkaian listrik secara langsung bersama teman kelompok.

 

 

Kamis, 18 Desember 2025

MEDIA/ALAT BANTU PEMBELAJARAN

REFLEKSI KARYA INOVASI

MEDIA/ALAT BANTU PEMBELAJARAN

DI FASE C LEVEL 5 SDS MUHAMMADIYAH BOJONGGEDE

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

SHINTA ARYANI SAPUTRI

 

 

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN PROFESI GURU DALJAB KATEGORI I ANGKATAN 2

UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

2023

 

 


Karya Inovasi

Terkadang di dalam pembelajaran guru masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional dengan metode ceramah tanpa menampilkan media pembelajaran atau alat peraga. Sehingga pembelajaran menjadi monoton, kurang menarik dan membosankan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut saya membuat media/alat bantu belajar sebagai salah satu alat peraga sederhana untuk membantu pemahaman peserta didik terhadap sebuah pembelajaran pada beberapa materi yang diajarkan di kelas V SDS Muhammadiyah Bojonggede.

Beberapa karya inovasi yang dibuat adalah sebagai berikut:

1.     Media/alat bantu pembelajaran Pengukuran sudut yaitu Jam Sudut yang memudahkan peserta didik mempelajari sudut

 

 


 


 

2.     Media/alat bantu pembelajaran Ekosistem maket Ekosistem untuk memudahkan peserta didik mempelajari tentang ekosistem darat dan laut

 


3.     Media/alat bantu pembelajaran Rangkaian Listrik Paralel

 

 

 


  

 

 

 

 

 

PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5) KEARIFAN LOKAL

  

PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5)

KEARIFAN LOKAL

 

A.      Kurikulum Merdeka

Sebelum kita membahas tentang Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ada baiknya kita mengenal Kurikulum Merdeka terlebih dahulu. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Dalam proses pembelajaran guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Dalam Kurikulum Merdeka, siswa tidak hanya dibentuk menjadi cerdas. Namun, juga berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau yang disebut sebagai wujud Profil Pelajar Pancasila.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kurikulum merdeka adalah kurikulum yang berorientasi kepada peserta didik atau bisa juga dikatakan pendidikan yang berfokus pada anak, dimana anak menjadi center dan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan anak dan bimbingan yang diberikanpun harus berfokus pada anak. 

Di dalam kurikulum merdeka terdapat projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila. Dimana dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek ini tidak bertujuan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.

 

B.      Profil pelajar Pancasila

Profil pelajar Pancasila adalah profil lulusan yang bertujuan untuk menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan di raih dan menguatkan nilai-nilai luhur Pancasila peserta didik dan para pemangku kepentingan. Profil pelajar Pancasila terdiri dari 6 dimensi yaitu:

a.       Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia yaitu akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam dan akhlak bernegara.

b.       Berkebinnekaan global

Pelajar yang berkebinnekaan global adalah pelajar yang memiliki identitas diri yang matang, menghormati keragaman, berbudi luhur, tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsaPada dimensi profil pelajar Pancasila ini para pelajar Indonesia harus dapat mengenal dan menghargai budaya dapat berkomunikasi dan berinteraksi antar budaya.

c.       Mandiri

Pelajar yang mandiri adalah pelajar yang memiliki rencana belajar Indonesia memiliki prakarsa atas pengembangan diri yang tercermin dalam kemampuan untuk bertanggung jawab memiliki rencana strategis melakukan tindakan dan merefleksikan proses dan hasil pengalaman. Pelajar Indonesia perlu memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta memiliki regulasi diri.

d.       Bergotong-royong

Pelajar yang memiliki sikap bergotong royong adalah pelajar yang memiliki kemampuan untuk melakukan kolaborasi dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan untuk kebaikan bersama. Yang harus dilakukan yang harus dilakukan melakukan kolaborasi memiliki kepedulian yang tinggi dan berbagi dengan sesama.

e.       Bernalar kritis

Pelajar yang bernalar kritis adalah pelajar yang berpikir secara objektif sistematik dan saintifik dengan mempertimbangkan apa yang diperlukan untuk memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya.

f.        Kreatif

Pelajar kreatif adalah pelajar yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinil bermakna bermanfaat dan berdampak dalam bentuk gagasan dan tindakan dan karya nyata secara proaktif dan independen untuk menemukan cara-cara lain dan berbeda untuk berinovasi terus diharapkan bisa menghasilkan gagasan karya dan tindakan orang orisinil memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan.

Rumusan Profil pelajar Pancasila dibuat bertujuan sebagai Kompas bagi pendidik dan pelajar Indonesia segala pembelajaran program dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke profil pelajar Pancasila. Jadi Profil pelajar pancasila adalah karakter dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu pelajaran oleh budaya sekolah pembelajaran intrakurikuler kokurikuler dan ekstrakurikuler.

C.      Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 adalah upaya untuk mewujudkan Pelajar Pancasila yang mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Berdasarkan Kemendikbudristek No.56/M/2022, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 memiliki prinsip yang harus dilaksanakan yaitu:

a.        Holistik. Prinsip holistik dalam P5 adalah prinsip yang memandang segala sesuatu secara keseluruhan.

b.       Kontekstual. Kontekstual adalah prinsip yang berkorelasi dengan usaha mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

c.        Berpusat pada Peserta Didik.

d.       Eksploratif.

Dalam kurikulum merdeka tujuan utama P5 adalah mengembangkan karakter pelajar Indonesia menjadi pelajar yang menghidupi nilai - nilai Pancasila, sehingga bisa disebut sebagai pelajar Pancasila. Ada 6 tema projek yang bisa dipilih jenjang SD yaitu gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, bhinneka tunggal Ika, bangunlah jiwa dan raganya, rekayasa dan teknologi, dan kewirausahaan. Dari keenam tema ini, kita akan mengupas tuntas salah satunya yaitu tema kearifan lokal.

 

D.      Tahapan Perencanaan Projek Profil Pelajar Pancasila

Sebelum melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kita harus membuat perencanaan terlebih dahulu. Berikut tahapan perencanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila:

1.     Membentuk Tim Fasilitator Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Tim fasilitator projek profil terdiri dari sejumlah pendidik yang berperan merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi projek profil. Tim fasilitator dibentuk dan dikelola oleh kepala satuan pendidikan dan koordinator projek profil. Jumlah tim fasilitator projek profil dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan, dilihat dari:

*     Jumlah peserta didik dalam satu satuan pendidikan,

*     Banyaknya tema yang dipilih dalam satu tahun ajaran,

*     Jumlah jam mengajar pendidik yang belum terpenuhi atau dialihkan untuk projek profil,

*     atau pertimbangan lain sesuai kebutuhan masing-masing satuan Pendidikan.

Langkah Pembentukan Tim Fasilitator Projek Profil

a.      Pimpinan satuan pendidikan menentukan seorang koordinator projek profil, bisa dari wakil kepala satuan pendidikan atau pendidik yang mempunyai pengalaman mengembangkan dan mengelola projek.

b.     Apabila mempunyai SDM yang cukup, koordinator projek profil sekolah dapat membentuk koordinator di level kelas. Misalnya satu orang koordinator kelas 1, satu orang koordinator kelas 2, dan seterusnya. Untuk pendidikan khusus, koordinator dapat dipilih berdasarkan jenis kekhususan.

c.      Pimpinan satuan pendidikan bersama koordinator projek profil memetakan pendidik dari setiap kelas (atau apabila SDM terbatas, perwakilan dari masingmasing fase) untuk menjadi tim fasilitator projek profil.

d.     Koordinator mengumpulkan dan memberikan arahan kepada tim fasilitator projek profil untuk merencanakan dan membuat modul projek profil bagi setiap kelas atau fase.

Pembagian Peran dan Tanggung Jawab dalam Pengelolaan Projek Profil

Ø  Satuan Pendidikan

a.      Menyiapkan sistem dari perencanaan hingga evaluasi dan refleksi projek profil di skala satuan pendidikan, termasuk sistem pendokumentasian projek profil. Sistem ini juga dapat digunakan sebagai portofolio satuan pendidikan.

b.     Membuka pintu kolaborasi dengan narasumber untuk memperkaya materi projek profil: masyarakat, komunitas, akademisi, praktisi. Satuan pendidikan dapat mengidentifikasi orang tua yang potensial sebagai narasumber dari daftar pekerjaan orang tua atau narasumber ahli di lingkungan sekitar satuan pendidikan.

c.      Mengomunikasikan projek penguatan profil pelajar Pancasila kepada lingkungan satuan pendidikan, orang tua peserta didik, dan mitra (narasumber dan organisasi terkait).

d.     Memastikan beban kerja pendidik tetap dipertahankan (tidak dikurangi) sesuai arahan alokasi waktu projek profil yang sudah diatur oleh pemerintah. Adapun pada pendidikan kesetaraan, alokasi waktu projek profil dilaksanakan pada mata Program Pemberdayaan dan/atau Keterampilan.

e.      Melibatkan pendidik bimbingan dan konseling atau mentor untuk memfasilitasi proses berjalannya projek profil dengan memberikan dukungan, baik dalam bidang akademis maupun kebutuhan emosional peserta didik.

f.      Menyediakan kebutuhan sumber daya serta dana yang diperlukan untuk kelangsungan projek profil.

Ø  Koordinator Projek Profil

a.      Koordinator bisa dari wakil kepala satuan pendidikan atau tenaga pendidik yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan dan mengelola projek profil.

b.     Mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam mengelola projek profil di satuan pendidikan.

c.      Mengelola sistem yang dibutuhkan tim pendidik/fasilitator dan peserta didik agar dapat menyelesaikan projek profil dengan sukses.

d.     Memastikan kolaborasi pengajaran terjadi di antara para pendidik yang tergabung di dalam tim fasilitator projek profil.

e.      Memastikan alur projek profil memiliki aktivitas yang kaya dan beragam untuk mengoptimalkan prinsip eksploratif.

f.      Memastikan rancangan asesmen yang dilakukan sesuai dengan kriteria kesuksesan yang sudah ditetapkan.

Ø  Fasilitator Projek Profil

a.      Memperhatikan kebutuhan dan minat belajar setiap peserta didik agar dapat memberikan stimulan atau tantangan yang beragam (berdiferensiasi), sesuai dengan gaya belajar, daya imajinasi, kreasi dan inovasi, serta peminatan terhadap tema projek profil.

b.     Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat dalam perencanaan dan pengembangan projek profil, dengan menyesuaikan kesiapan peserta didik dalam tingkat keterlibatan.

c.      Memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendalami isu atau topik pembelajaran yang kontekstual dengan tema projek profil sesuai dengan minat masing-masing peserta didik.

d.     Berkolaborasi dengan seluruh pihak terkait projek profil (orang tua, mitra, lingkungan satuan pendidikan, dll. ) dalam mencapai tujuan pembelajaran dari setiap tema projek profil.

e.      Melakukan penilaian yang mengacu pada prinsip asesmen yang sudah ditentukan dalam memonitor perkembangan profil pelajar Pancasila yang menjadi fokus sasaran.

f.      Menyediakan sumber belajar yang dibutuhkan oleh peserta didik secara proporsional. Contoh dalam tahapan belajarnya, peserta didik perlu dibantu dalam penyediaan hal berikut: buku, surat kabar, majalah, jurnal, dan sumber-sumber pembelajaran lain yang berhubungan dengan projek profil serta narasumber yang dapat memperkaya proses pelaksanaan projek profil.

g.     Mengajarkan keterampilan proses inkuiri peserta didik dan mendampingi peserta didik untuk mencari referensi sumber pembelajaran yang dibutuhkan, seperti buku, artikel, tulisan pada surat kabar/majalah, praktisi atau ahli bidang tertentu, dan sumber belajar lainnya.

h.     Memfasilitasi akses untuk proses riset dan bukti, dengan cara menyiapkan surat pengantar yang dibutuhkan untuk menghubungi sumber pembelajaran dan mencari kontak dan menghubungi narasumber

i.       Membuka diri untuk memberi dan menerima masukan serta kritik, mulai dari awal hingga akhir pelaksanaan projek profil.

j.       Mendampingi peserta didik untuk merencanakan dan menyelenggarakan setiap tahapan kegiatan projek profil yang menjadi ruang lingkup belajar peserta didik.

k.     Memberi ruang peserta didik untuk berpendapat, membuat pilihan, dan mempresentasikan projek profil mereka.

l.       Mengelola beban kerja mengajar dengan seimbang antara intrakurikuler dan projek profil.

 

2.     Mengidentifikasi Tahapan Kesiapan Satuan Pendidikan dalam Menjalankan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Identifikasi awal kesiapan satuan pendidikan dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila didasarkan pada kemampuan satuan pendidikan dalam menerapkan pembelajaran berbasis projek (project based learning). Pembelajaran berbasis projek adalah pendekatan kelas yang dinamis di mana peserta didik secara aktif mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam. (Edutopia) Pembelajaran berbasis projek bukan hanya kegiatan membuat produk atau karya, namun kegiatan yang mendasarkan seluruh rangkaian aktivitasnya pada sebuah persoalan yang kontekstual. Oleh karenanya, pembelajaran berbasis projek biasanya mencakup beragam aktivitas yang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek.

1.     Tahap Awal

a.      Satuan pendidikan belum memiliki sistem dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran berbasis projek.

b.     Konsep pembelajaran berbasis projek baru diketahui pendidik.

c.      Satuan pendidikan menjalankan projek secara internal (tidak melibatkan pihak luar).

2.     Tahap Berkembang

a.      Satuan pendidikan sudah memiliki sistem untuk menjalankan pembelajaran berbasis projek.

b.     Konsep pembelajaran berbasis projek sudah dipahami sebagian pendidik.

c.      Satuan pendidikan mulai melibatkan pihak di luar satuan pendidikan untuk membantu salah satu aktivitas projek.

3.     Tahap Lanjutan

a.      Pembelajaran berbasis projek sudah menjadi kebiasaan satuan pendidikan

b.     Konsep pembelajaran berbasis projek sudah dipahami semua pendidik.

c.      Satuan pendidikan sudah menjalin kerjasama dengan pihak mitra di luar satuan pendidikan agar dampak projek dapat diperluas secara berkelanjutan.

3.     Menentukan Dimensi dan Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

3.1. Dimensi Profil Pelajar Pancasila

Tim fasilitator dan kepala satuan pendidikan menentukan dimensi profil pelajar Pancasila yang akan menjadi fokus untuk dikembangkan pada tahun ajaran berjalan. Pemilihan dimensi dapat merujuk pada visi misi satuan pendidikan atau program yang akan dijalankan di tahun ajaran tersebut. Disarankan untuk memilih 2-3 dimensi yang paling relevan untuk menjadi fokus yang sasaran projek profil pada satu tahun ajaran. Sebaiknya jumlah dimensi profil pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam suatu projek profil tidak terlalu banyak agar tujuan pencapaian projek profil jelas dan terarah. Penentuan dimensi sasaran ini akan dilanjutkan dengan penentuan elemen dan sub-elemen yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik di tahap pengembangan modul projek profil.

Apabila pimpinan satuan pendidikan sudah berpengalaman menjalankan kegiatan berbasis projek, jumlah dimensi yang dipilih dapat ditambah sesuai dengan kesiapan tingkat satuan pendidikan.

3.2. Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kemendikbudristek menentukan tema untuk setiap projek profil yang diimplementasikan di satuan pendidikan. Dimulai pada tahun ajaran 2021/2022, terdapat empat tema untuk jenjang PAUD dan delapan tema untuk SD-SMK dan sederajat yang dikembangkan berdasarkan isu prioritas dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035, Sustainable Development Goals, dan dokumen lain yang relevan.

4.     Merancang Alokasi Waktu Projek Penguatan

4.1. Pemetaan Alokasi Waktu Projek Profil di Setiap Jenjang

Langkah pertama merancang alokasi waktu projek profil adalah mengidentifikasi jumlah total jam projek profil yang dimiliki setiap kelas. Jumlah jam tersebut ditentukan dalam Kepmendibudristek RI Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Pada sekolah dasar alokasi waktu projek pada 1 tahun adalah 252 jam pelajaran. Pembelajaran bisa dimasukan setiap hari sebanyak 2 JP, 2 minggu persemester full atau seminggu sekali.

 

E.      Kearifan Lokal

Kearifan lokal adalah pandangan hidup suatu masyarakat di wilayah tertentu mengenai lingkungan alam tempat mereka tinggal. Pandangan hidup ini biasanya adalah pandangan hidup yang sudah berurat akar menjadi kepercayaan orang-orang di wilayah tersebut selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Menurut Ahmad Baedowi Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut. Kearifan lokal ada di dalam cerita rakyat, peribahasa, lagu, dan permainan rakyat. Kearifan lokal sebagai suatu pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat lokal tertentu melalui kumpulan pengalaman dalam mencoba dan diintegrasikan dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat. Untuk mempertahankan kearifan lokal tersebut, para orang tua dari generasi sebelumnya, dan lebih tua akan mewariskannya kepada anak-anak mereka dan begitu seterusnya. Mengingat kearifan lokal adalah pemikiran yang sudah lama dan berusia puluhan tahun, maka kearifan lokal yang ada pada suatu daerah jadi begitu melekat dan sulit untuk dipisahkan dari masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.

Jawa barat terkenal dengan banyaknya kearifan lokal, tiap daerahnya memiliki ciri khasnya sendiri, seperti Bandung yang terkenal dengan nama kota kembang dan Bogor yang terkenal dengan kota hujan. Untuk itu kita akan mengupas tuntas kearifan lokal salah satu daerah yang ada di Jawa barat yaitu Bojonggede. Bojonggede merupakan salah satu kecamatan yang terletak di kabupaten Bogor provinsi Jawa Barat. Mengapa harus Bojonggede? Karena penulis tinggal di daerah Bojonggede jadi penulis ingin pembaca pengenal dan mengetahui salah satu kearifan yang terkenal di Bojonggede. Dari banyaknya keunikan dan kearifan yang ada di Bojonggede kita akan menggali salah satunya yaitu Dodol khas Bojonggede.

Seperti daerah Jawa barat lainnya, Bojonggede terkenal akan salah satu kudapan tradisionalnya yaitu Dodol. Karena sangat terkenalnya dodol itu, sampai salah satu daerah disana diberi nama Gang Dodol. Mengapa bisa diberi nama Gang Dodol ? Singkat cerita Konon didaerah tersebut hampir sebagian masyarakatnya bekerja sebagai pembuat dodol. Dan lebih dari 10 pabrik dodol ada disana, tetapi seiring berjalannya waktu banyak pabrik dodol yang tutup. Hal itu dikarenakan tidak ada yang bisa meneruskan usaha turun temurun tersebut. Banyak generasi muda yang enggan meneruskan usaha tradisional tersebut. Karena itulah saya sebagai salah satu guru di SD Muhammadiyah ingin mengenalkan kembali kepada generasi muda salah satu kearifan lokal khas Bojonggede yang hampir dilupakan anak muda.

Dodol adalah camilan yang terbuat dari campuran santan kelapa ditambah adukan tepung ketan beradu dengan manisnya gula aren. Proses memasaknya memakan waktu lama hingga mendapatkan tekstur yang lengket dan amat kental. Walaupun hampir semua daerah Jawa pasti memiliki Dodol, namun setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing termasuk dodol Bojonggede.

Pada tahun ajaran 2021 / 2022 SD Muhammadiyah terpilih sebagai sekolah penggerak dan kelas 1 dan 4 menggunakan kurikulum merdeka. Pada sekolah penggerak terdapat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan SD Muhammadiyah mengambil tema Kearifan Lokal. Kearifan lokal yang diambil yaitu membuat dodol. Berikut tahapan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila membuat dodol kelas IV SD Muhammadiyah Bojonggede.

1. Tahap Pengenalan Projek



Sebelum melakukan pengenalan kepada anak-anak, saya sebagai guru wajib melakukan observasi langsung ke tempat pembuatan dodol di gang dodol. Selain melakukan observasi kita juga belajar cara membuat dodol langsung sama pemiliknya.

Setelah melakukan observasi guru mengajak peserta didik berkumpul dan mengenalkan tentang kearifan lokal. Setelah peserta didik mengenal kearifan lokal dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila siswa dikenalkan dengan Dodol.

2. Tahap Kontekstualisasi Projek

Pada tahap ini peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok dan setiap kelompok berisi 5 peserta didik dari kelas A dan 5 peserta didik dari kelas B, selajanjutnya peserta didik melakukan observasi dan mencari informasi tentang projek. Setelah mendapat informasi siswa dapat mendiskusikan tentang permasalahan yang ada pada projek. Setelah menemukan masalah dan kendala siswa dapat mencari cara mengatasi kendala tersebut.

Pengenalan tentang dodol disampaikan secara langsung oleh guru selanjutnya peserta didik mempelajari cara membuat dodol melalui presentasi guru dan video youtube yang diberikan guru. Kita tonton bersama dan kita pelajari Bersama secara otodidak. Dalam pengenalan dodol kita menemukan beberapan kendala dan selanjutkan kita berdiskusi menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam pembuatan dodol ini permasalahan dan kendala yang kita hadapi yaitu waktu pembuatan yang sangat lama dikarenakan kita membuatnya di kompor bukan ditunggu. Setelah melakukan uji coba dan mencari info akhirnya kita dapat memecahkan permasalahan tersebut yaitu dengan mengganti santan asli dengan santan instan yang yang kental dan mengganti penggorengan dengan Teflon agar tidak lengket.

3. Tahap Aksi

 



Pada tahap ini siswa langsung membuat dodol disekolah. Tiap siswa dibagi menjadi kelompok dan tiap kelompok membuat aneka dodol, ada yang membuat dodol original, wijen, Nangka dan durian. Bahan yang harus disiapkan siswa hamper sama yang membedakan hanya tambahan rasa.

Bahan:

500 gr tepung ketan kualitas baik

500 gr gula merah

200 gr gula pasir

1000 ml santan kental

 3 lembar daun pandan

 ½ sendok garam

 

Cara membuat:

1.       Campur santan tepung garam hingga larut tak bergerindil

2.       Panaskan gula merah, gula pasir, dan pandan hingga larut dalam teflon anti lengket.

3.       Masukkan adonan tepung ke dalam gula, aduk rata lalu panaskan hingga terasa berat saat mengaduk. Apabila ingin menambahkah rasa bisa ketika mengaduk dodol agar rasa merata dan meresap.

4.       Tes dengan spatula bila sudah tak lengket berarti sudah matang. Dinginkan, saat masih hangat, sediakan nampan yang dialasi daun pisang yang diolesi sedikit minyak, tuang dodol lalu ratakan.

5.      
Simpan di suhu ruang.


Setelah dodol jadi peserta didik langsung mempromosikan dan menjual langsung dodol hasil buatannya di acara ekspose projek penguatan profil pelajar Pancasila. Setelah Ekspose projek masih terus berlanjut yaitu setiap kelompok langsung membuat laporan hasil projek. Untuk pembuatan laporan hasil projek dibagi menjadi 2 yaitu laporan dalam bentuk tulisan dan laporan dalam bentuk video. Waktu yang diberikan dalam membuat laporan adalah 2 minggu sehingga siswa dapat membuat dengan maksimal. Setelah laporan selesai siswa langsung mempresentasikannya didepan kelas.

Setelah melaksanakan projek kita dapat mengetahui bahwa Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk "mengalami pengetahuan" sebagai proses penguatan karakter sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.

Manfaat projek penguatan profil pelajar Pancasila adalah memberikan ruang bagi seluruh warga sekolah atau satuan pendidikan untuk mempraktikkan dan mengamalkan Profil Pelajar Pancasila. Manfaat pada setiap komponen sekolah berbeda-beda.

a.      Untuk satuan pendidikan, manfaat projek penguatan profil pelajar Pancasila di antaranya: menjadikan satuan pendidikan sebagai sebuah ekosistem yang terbuka untuk partisipasi masyarakat

b.     Menjadikan satuan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berkontribusi kepada lingkungan dan komunitas di sekitarnya.

Sementara manfaat projek penguatan profil pelajar Pancasila bagi pendidik/guru adalah:

a.      Memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan kompetensi dan memperkuat karakter

b.     merencanakan proses pembelajaran projek dengan tujuan akhir yang jelas

c.      Mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran.

 

4. Tahap Refleksi

       Pada tahap ini peserta didik memberikan saran, masukan dan kritik terhadap pelaksanaan aksi nyata projek. Saran yang diberikan oleh peserta didik adalah pada aksi nyata selanjutnya sebaiknya anggota kelompoknya dikurangi menjadi 7 orang karena saat ini 10 orang terlalu banyak. Akibatnya ada beberapa anak yang kerjanya tidak seimbang.

       Kritik ysng disampaikan peserta didik tidak ada. Karena selama proses pembuatan mereka melakukan dengan senang apalagi praktek membuat dodol lansung yang sangat diminati anak-anak.

       Masukan yang disampaikan peserta didik adalah waktu pengerjaan aksi nyatanya ditambah dan peralatan kalau bisa disediakan oleh sekolah, karena mereka kesulitan membawa kompor dari rumah.

Metode Implementasi Projek

a.      Refleksi awal, tengah, dan akhir. Pendidik, peserta didik, dan satuan pendidikan dapat mengisi lembar refleksi di awal, pertengahan, dan akhir pelaksanaan projek untuk menilai perkembangan pembelajaran dan pengajaran. Refleksi di awal projek dapat membantu pendidik mengukur pengetahuan awal peserta didik dan membantu pendidik menyiapkan projek yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Refleksi di pertengahan dapat memberikan pendidik dan peserta didik umpan balik mengenai proses perkembangan pembelajaran. Refleksi di akhir projek juga dapat memberikan gambaran bagi pendidik, peserta didik, dan satuan pendidikan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik dan hal-hal yang perlu perbaikan.

b.     Refleksi dan diskusi dua arah. Pendidik dan peserta didik dapat merefleksikan dan mendiskusikan perkembangan bersama. Bukan hanya pendidik yang memberikan penilaian secara sepihak, tetapi pendidik juga mendengarkan pandangan peserta didik mengenai perkembangan diri mereka sendiri juga proses pengajaran pendidik. Pandangan peserta didik ini dapat membuat peserta didik merasa "didengarkan" dan pendidik juga mendapatkan masukan penyempurnaan pengajaran di projek berikutnya.

c.      Refleksi melalui observasi dan pengalaman. Pendidik dan peserta didik dapat melakukan observasi secara berkelanjutan selama projek berlangsung dan menuangkan pengalaman mereka dalam bentuk tulisan di jurnal dan/atau portofolio.

d.     Refleksi menggunakan rubrik. Rubrik yang efektif dapat memandu proses refleksi menjadi lebih terarah dan objektif.

e.      Laporan perkembangan peserta didik. Laporan ini seyogyanya diuraikan secara terperinci sesuai dengan perkembangan diri individual peserta didik sehingga mereka memahami dengan jelas apa yang harus dikembangkan.

5. Tahap tindak lanjut

a.      Setelah satuan pendidikan dan pendidik merasa nyaman dan siap dengan pelaksanaan pembelajaran berbasis projek, ada beberapa contoh tindak lanjut yang bisa dilakukan untuk meningkatkan dampak projek.

 

b.     Menjalin kerja sama dengan pihak mitra di luar satuan pendidikan, seperti orang tua, satuan pendidikan lain, juga komunitas, organisasi, dan pemerintah lokal, nasional, bahkan internasional. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan potensi dampak dari aksi dan praktik baik yang sudah dimulai, yang awalnya hanya berpusat pada lingkungan satuan pendidikan untuk bisa diperluas ke ruang lingkup lebih besar, seperti sekitar satuan pendidikan, kecamatan, kota, lalu nasional dan internasional.

c.      Mengajak warga satuan pendidikan untuk meneruskan aksi dan praktik baik yang sudah dijalankan selama projek.

d.     Mengintegrasikan berbagai projek yang ada agar saling mendukung dan bukan berkompetisi. Kerja sama ini juga dapat membuat kedua projek mempunyai dampak yang lebih besar.

e.     Mengajak warga satuan pendidikan untuk memikirkan cara mengoptimalkan dampak dan manfaat projek. Proses ini dapat mendorong warga satuan pendidikan, terutama peserta didik untuk menjadi agen perubahan sosial yang aktif terlibat menyelesaikan masalah sosial yang ada di masyarakat. Satuan pendidikan dalam hal ini dapat memaksimalkan perannya sebagai bagian penting dalam bermasyarakat dan bernegara. Misalnya, peserta didik dapat diajak untuk menggunakan berbagai media sosial secara positif dengan mengampanyekan aksi dan menyebarkan praktik baik yang sudah dimulai.

     


 

PROFIL PENULIS


 

Chinta Phinz adalah nama pena dari Shinta Aryani Saputri. Cewek yang sering disapa Puput ini lahir di Padang pada 23 September 1991. Lahir sebagai anak sulung dari 2 bersaudara dan mencintai semua hal berhubungan dengan kuliner. Memiliki 2 anak yang bernama Ruby Alesha Putri dan Sapphire Attharazka Assyafaat.

Ibu dua anak ini, hobi membaca novel online dan menyukai semua hal yang berasal dari negeri ginseng, kegiatannya saat ini adalah mengajar di SD Muhammadiyah Bojonggede. Memiliki moto hidup bukan karena Bahagia kita tertawa tetapi karena tertawa semua jadi Bahagia, jadi selalu tertawa walau hati sedang menangis.